Tantangan Pengelolaan Sampah Solo: Antara Teknologi PLTSa dan Urgensi Perubahan Perilaku

 20.00

Gambar sebuah bangunan tersebut adalah fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Waste-to-Energy (WtE). 


SURAKARTA – Persoalan sampah di Kota Surakarta masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Meski kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Putri Cempo membawa angin segar sebagai solusi hilir, tantangan di sisi hulu—yakni budaya masyarakat dan pemilahan sampah—masih menjadi kendala utama.

Berdasarkan penelusuran di lapangan, kondisi TPA Putri Cempo saat ini menampung ribuan ton sampah yang terus menumpuk. Tiga narasumber memberikan perspektif komprehensif mengenai isu ini: Anggita Londriski (Mahasiswa Ilmu Lingkungan UNS), Bapak Dian (Kepala Satpam/Operasional PLTSa Putri Cempo), dan Prof. Dr. Prabang Setyono, S.Si., M.Si (Kepala Program Studi S3 Ilmu Lingkungan UNS).


Realitas Tumpukan Sampah dan Dampak Lingkungan

Anggita Londriski, mahasiswa Ilmu Lingkungan UNS yang melakukan observasi di lokasi, menggambarkan kondisi volume sampah di TPA Putri Cempo sudah sangat memprihatinkan.

"Volume sampah sudah sangat tinggi, mencapai ribuan ton. Jika hanya mengandalkan pengelolaan manual oleh pekerja TPA, mustahil untuk menyelesaikan masalah ini," ujar Anggita.

Ia juga menyoroti dampak ekosistem yang serius di sekitar TPA. Keberadaan ternak seperti sapi yang memakan sampah plastik menjadi pemandangan miris yang lazim ditemui.

"Sangat disayangkan, banyak sapi kurus yang memakan sampah plastik. Ini terjadi karena adanya semacam simbiosis antara pemilik ternak dan kondisi di TPA, namun hal ini merusak ekosistem fauna dan berpotensi membahayakan kesehatan hewan tersebut," tambahnya. Selain itu, bau menyengat yang tercium hingga radius 1 kilometer serta polusi udara dan kotoran dari truk pengangkut sampah menjadi keluhan warga sekitar.


PLTSa Putri Cempo: Solusi Teknologi dan Tantangannya

Sebagai respons atas krisis ini, PLTSa Putri Cempo hadir dengan teknologi Waste to Energy. Bapak Dian, selaku perwakilan operasional keamanan PLTSa, menjelaskan bahwa teknologi ini mengubah sampah menjadi briket yang kemudian dibakar (gasifikasi) untuk menghasilkan listrik.


Gambar area penyimpanan terbuka dan jalur akses yang digunakan untuk menampung dan mengangkut tumpukan sampah


Namun, operasional PLTSa bukan tanpa kendala. "Setiap hari masuk sekitar 300 hingga 370 ton sampah. Namun, untuk mencapai efisiensi optimal, mesin kami membutuhkan input sekitar 500 ton per hari. Saat ini kami belum mencapai target tersebut," ungkap Dian.

Kendala teknis terbesar adalah karakteristik sampah yang masuk masih tercampur (mixed waste). Sampah organik, plastik, tanah, hingga batu dan logam bercampur menjadi satu.

"Sampah yang tercampur tanah dan batu seringkali merusak gigi mesin pengolah (crusher). Selain itu, kadar air yang tinggi mengharuskan proses pengeringan ekstra agar bisa dibakar sempurna," jelas Dian. Ia menegaskan bahwa meskipun PLTSa sudah beroperasi dan menyuplai listrik ke PLN, teknologi ini tidak akan maksimal tanpa dukungan pemilahan sampah dari sumbernya.


Perspektif Akademisi: Kultur dan Edukasi

Menanggapi situasi ini, Prof. Dr. Prabang Setyono dari UNS menekankan pentingnya implementasi regulasi dan perubahan kultur. Merujuk pada Perda Nomor 4 Tahun 2021, sampah seharusnya tidak menginap lebih dari 24 jam dan harus segera diolah.

"Solo sudah memiliki PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) dengan kapasitas maksimal 525 ton per hari. Ironisnya, sampah harian Solo sekitar 340 ton sebenarnya kurang untuk memenuhi kapasitas mesin. Namun, masalah utamanya adalah sampah tersebut belum homogen," papar Prof. Prabang.

Dalam lingkup kampus UNS, Prof. Prabang mengakui bahwa tantangan terbesar mewujudkan Green Campus adalah faktor budaya. "Mahasiswa itu silih berganti setiap empat tahun. Ketika satu angkatan sudah sadar lingkungan, mereka lulus, dan datang mahasiswa baru yang membawa kebiasaan lama. Ini berbeda dengan instansi perkantoran yang pegawainya tetap," jelasnya.

UNS sendiri berupaya mendukung pemerintah kota dengan strategi pemilahan sampah di sumber untuk memudahkan kerja PLTSa. Langkah konkret lainnya meliputi pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dalam konsumsi acara kampus, peralihan ke dokumen digital (paperless), serta penyediaan tempat sampah terpilah.

"Prinsipnya, jika sumber daya (tempat sampah) terlalu banyak, orang cenderung meremehkan. Namun jika dikondisikan terbatas dan teratur, perilaku akan berubah menjadi lebih disiplin," tambah Prof. Prabang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Momen Warga Bandung Salat Id di Halaman Apartemen Gateway Cicadas

Agenda Solo Hari Ini: Ada Pembagian Bubur Samin hingga Solo Is Solo